OpenAI Bersiap Satukan Otak Manusia dan AI Tanpa Chip di Kepala, Inikah Masa Depan Teknologi?

OpenAI Bersiap Satukan Otak Manusia dan AI Tanpa Chip di Kepala, Inikah Masa Depan Teknologi?
OpenAI Bersiap Satukan Otak Manusia dan AI Tanpa Chip di Kepala, Inikah Masa Depan Teknologi?

JAKARTA - Bayangkan jika suatu hari manusia bisa berinteraksi langsung dengan kecerdasan buatan tanpa harus menanam chip di otak. Kedengarannya seperti film fiksi ilmiah, tapi kini ide itu mulai masuk ke dunia nyata.

OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, diam-diam mengambil langkah besar dengan menanamkan investasi ke sebuah startup bernama Merge Labs. Startup ini bergerak di bidang pengembangan antarmuka saraf atau neurointerface, dan menariknya, didirikan langsung oleh CEO OpenAI, Sam Altman.

Nilai investasinya memang tidak diumumkan secara resmi. Namun berdasarkan laporan dari berbagai sumber industri teknologi, dana yang digelontorkan diperkirakan mencapai sekitar 250 juta dolar AS, atau jika dikonversi ke rupiah nilainya mendekati Rp4 triliun.

Misi Besar Merge Labs: Menghubungkan Otak dan AI

Merge Labs menyebut dirinya sebagai laboratorium riset yang memiliki ambisi besar. Tujuannya adalah menyatukan kecerdasan biologis manusia dengan kecerdasan buatan untuk memperluas kemampuan manusia secara alami.

Manusia bisa memahami dunia karena aktivitas miliaran neuron di dalam otak. Jika interaksi dengan neuron-neuron ini bisa dilakukan secara efektif dan aman, maka banyak hal luar biasa berpotensi terjadi. Mulai dari memulihkan kemampuan yang hilang, menjaga kesehatan otak, memperkuat koneksi antarmanusia, hingga membuka batas baru dalam kreativitas dan imajinasi.

Singkatnya, Merge Labs ingin membuat otak manusia bekerja lebih optimal dengan bantuan teknologi, tanpa mengubah manusia menjadi “robot”.

Tanpa Operasi, Tanpa Chip, Tanpa Risiko Besar

OpenAI Bersiap Satukan Otak Manusia dan AI Tanpa Chip di Kepala, Inikah Masa Depan Teknologi?
OpenAI Bersiap Satukan Otak Manusia dan AI Tanpa Chip di Kepala, Inikah Masa Depan Teknologi?

Yang membuat Merge Labs berbeda dari banyak pemain lain di bidang brain computer interface adalah pendekatannya yang non-invasif. Artinya, tidak ada proses bedah otak, tidak ada pemasangan elektroda, dan tidak ada chip yang ditanam di kepala.

Sebagai gantinya, Merge Labs meneliti penggunaan molekul khusus dan teknologi seperti gelombang ultrasonik untuk berinteraksi dengan neuron. Pendekatan ini dianggap lebih aman, lebih terjangkau, dan lebih realistis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Target akhirnya adalah menciptakan antarmuka otak dan komputer yang nyaman dipakai, aman untuk jangka panjang, dan bisa diakses oleh banyak orang, bukan hanya pasien medis tertentu.

BCI, Langkah Besar dalam Cara Manusia Berinteraksi

Teknologi brain computer interface atau BCI disebut sebagai lompatan besar dalam evolusi interaksi manusia dengan teknologi. Dengan BCI, cara kita berkomunikasi, belajar, hingga menggunakan perangkat digital bisa berubah total.

OpenAI melihat BCI sebagai pintu menuju masa depan di mana manusia tidak lagi dibatasi oleh keyboard, layar sentuh, atau suara. Pikiran dan niat manusia bisa menjadi bentuk interaksi baru dengan teknologi.

Peran AI dalam Mengartikan Pikiran Manusia

OpenAI juga menekankan bahwa kecerdasan buatan akan memegang peran krusial dalam pengembangan teknologi ini. AI mampu mempercepat riset di bidang bioteknologi, neuro­science, dan pengembangan perangkat keras.

Lebih dari itu, AI bisa membantu menginterpretasikan niat pengguna, menyesuaikan sistem dengan karakteristik otak masing-masing individu, dan tetap bekerja secara efektif meskipun sinyal dari otak sangat terbatas. Ini adalah tantangan besar yang sulit dilakukan tanpa bantuan kecerdasan buatan.

Hubungan Simbiosis yang Menguntungkan

Para pengamat teknologi menilai kerja sama OpenAI dan Merge Labs menciptakan siklus yang saling menguntungkan. Investasi OpenAI meningkatkan nilai dan kapasitas riset Merge Labs. Di sisi lain, jika teknologi ini sukses, produk OpenAI berpotensi mendapatkan lonjakan pengguna dan relevansi yang jauh lebih besar di masa depan.

Fakta bahwa kedua perusahaan dipimpin oleh orang yang sama tentu menambah kemudahan koordinasi dan keselarasan visi.

Elon Musk dan Neuralink, Pendekatan yang Berbeda

Di saat yang sama, pesaing lama Sam Altman, Elon Musk, juga bergerak di bidang serupa lewat startup Neuralink. Namun pendekatannya sangat berbeda.

Neuralink fokus pada pemasangan chip langsung ke otak manusia. Teknologi ini sudah diuji pada pasien lumpuh berat, bahkan salah satu pasien berhasil bermain game Counter Strike 2 hanya dengan pikiran.

Meski terdengar mengesankan, metode Neuralink tergolong invasif. Prosesnya melibatkan operasi bedah otak, di mana robot bedah mengangkat sebagian kecil tengkorak dan menanam benang elektroda super tipis ke dalam jaringan otak untuk membaca sinyal saraf.

Dua Visi, Satu Tujuan Besar

Baik OpenAI melalui Merge Labs maupun Neuralink milik Elon Musk sama-sama mengejar tujuan besar: menghubungkan manusia dan mesin. Bedanya, satu memilih jalan aman tanpa operasi, sementara yang lain memilih jalur agresif dengan implant langsung ke otak.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah teknologi ini akan terwujud, tetapi siapa yang akan lebih dulu menghadirkan solusi yang benar-benar aman, efektif, dan bisa diterima masyarakat luas.

Yang jelas, masa depan hubungan antara otak manusia dan kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar wacana. Ia sedang dibangun, perlahan tapi pasti.

Post a Comment

0 Comments